Ibu kost Tante girang ku
23.12 By Coast
Tante girang memang cerita yang tak pernah habis, apalagi
kehidupan tante tante saat ini seolah bukan lagi menjadi rahasia ketika
ia adalah seorang tante nakal yang doyan brondong. Tante girang kali ini
adalah cerita tentang tante girang standar biasa, yang gak glamour. Dia
adalah Ibu kost ku sendiri. Inilah cerita Ibu kost Tante girang ku.
Ruang yang dia minta dan bangun adalah gudang disebelah garasi mobil.
Dengan selera anak mudanya dia atur interior ruangan itu seenak
perutnya. Setengah selesai penataan ruang yang akhirnya jadi kamar yang
cukup besar itu, sekali lagi Yoyok menawarkan diri agar saya mau tinggal
bersamanya. Saat itu Ibu Reni, hanya senyum-senyum saja. seperti
dulu-dulupun saya menolaknya. Gengsi dikitlah, sebab ikut tinggal
dirumah Bu Reni berarti semuanya serba gratis, itu artinya hutang budi,
dan artinya lagi : ketergantungan. Biar saya suka pusing mikirin uang
kost bulanan, makan sehari-hari atau nyuci pakaian sendiri, sedikitnya
dikamar kostku saya seperti manusia merdeka. Lha wong saya bayar!.
Tapi hari itu, entah karena bujukan mereka, atau karena sayangku juga
pada mereka dan sebaliknya sayang mereka padaku selama ini. Akhirnya
saya terima juga tawaran itu, dengan perjanjian bahwa saya tidak mau
serba gratis. saya maunya bayar, walaupun uang bayaran kostku itu ibarat
ngencingin kolam renang buat Bu Reni yang memang kaya itu. Toh selama
ini saya menganggap rumah Bu Reni ini rumah kostku yang kedua,
sebelumnya sering juga saya nginap dan nongkrong hampir setiap hari
disini.
Ada satu hal sebenarnya yang ikut juga menghalangiku selama ini menolak
tawaran Yoyok atau Bu Reni untuk tinggal dirumahnya. Entah kenapa saya
yang anak muda begini, suka merasakan ada sesuatu yang aneh didada kalau
bertatapan, ngobrol, bercanda, diskusi dan berdekatan dengan bu Reni.
Perempuan yang selayaknya jadi tante atau bahkan ibuku itu. Buatku ibu
Reni bukan hanya sosok perempuan cantik atau sedikitnya orang yang
melihatnya akan menilai bahwa semasa gadisnya bu Reni adalah perempuan
yang luar biasa. Bukan hanya sekedar bahwa sampai setua itu ibu Reni
masih punya bentuk tubuh yang meliuk-liuk. Senyumnya, dada, pinggang,
sampai kepinggulnya suka membuatku susah tidur dan baru lega jika saya
beronani membayangkan bersetubuh dengannya. Jika saya beronani tidak
cukup kalau cuma ngecret sekali saja.
Gejala apa ini, apakah wajar saya terobsesi sosok perempuan yang tidak
hanya sekedar cantik, tapi berintelegensi bagus, penuh kasih dan mature.
Buatku secantik apapun perempuan jika tidak punya tiga unsur itu,
hambar dalam selera dan pandanganku. Seperti sebuah buku kartun yang
tolol dan tidak lucu saja layaknya. Malangnya ibu Reni memiliki semua
itu, dan lebih malangnya lagi aku. Dibawah sadar sering saya
diremas-remas iri dan cemburu jika melihat ibu Reni berbincang mesra
atau melayani pak Hendra, suaminya. Begitu telaten dan indah. Gila!.
Selama saya tinggal dirumah Bu Reni itu, pada awalnya semua biasa saja.
Perhatian dan sayang Bu Reni kurasakan tak ada bedanya terhadapku dan
Yoyok. Kupikir semua ini naluri keibuannya saja. Tetapi semua itu
berjalan hanya sampai kurang lebih 4.
Disuatu malam dari balik jendela kamarku kulihat beberapa kali ibu Reni
keluar masuk rumah dengan gelisah menunggu Pak Hendra yang sampai jam
22.00 belum pulang. Sebentar dia kedalam sebentar keluar lagi, duduk
dikursi, memandang kejalan dengan muka gelisah, membalik-balik majalah
lalu masuk lagi. Keluar lagi. Kuperhatikan belakangan ini ibu Reni
begitu murung. Ada masalah yang dia sembunyikan. Senyumnya sering kali
getir dan terpaksa.
Aku beranjak kekamar mandi untuk kencing. Buku Cerita Dewasa yang sedari
tadi membuat kontolku ngaceng kugeletakan dimeja. Tapi begitu saya
kembali ternyata bu Reni sudah duduk dikursi panjang di kamarku memegang
buku itu. saya hanya meringis ketika bu Reni meledekku membaca buku
cerita dewasa yang pas dicerita ah-eh-oh kertasnya saya tekuk. Sesaat
setelah kami kehabisan bahan bicara, muka Bu Reni kembali mendung lagi.
Dia berdiri, berjalan kesana sini dengan pelan tanpa suara merapikan apa
saja yang dilihatnya berantakan. Sprei tempat tidur, buku-buku, koran,
majalah, pakaian kotor dan asbak rokok.Ya maklum kamar bujanganlah. saya
pindah duduk dikursi panjang lantas mematung memperhatikannya. Seperti
tanpa kedip. Semua yang dilakukannya adalah keindahan seorang perempuan,
seorang ibu.
Setelah selesai, sejenak bu Reni hanya berdiri, melihat jam didinding
lalu menatapku dengan mata yang kosong. saya coba untuk tersenyum
sehangat mungkin. Bu Reni duduk disampingku. Mukanya yang tetap murung
akhirnya membuatku berani bicara mengomentari sikapnya belakangan ini
dan bertanya kenapa?. Bu Reni tersenyum hambar, menggeleng-gelengkan
kepala, diam, menunduk, menarik napas dalam dan melepasnya dengan halus.
Sunyi. Seperti ingin to the point saja, bu Reni menceritakan masalah
dengan suaminya.
Seperti kampung yang diserbu provokator dan perusuh saja, otakku
tercabik-cabik, terbuka.Hubungan bu Reni dengan suaminya selama ini
ternyata semuanya penuh kepura-puraan. Kemesraan mereka semu tak
bernurani, bagai sebuah ruangan setengah kosong, dan setengahnya lagi
sekedar keterpaksaan pelaksanaan kewajiban saja. Bu Reni berada
didalamnya. Suaminya tahu tapi seperti sengaja membiarkannya memikir,
menghadapi dan menyelesaikannya sendiri. Menerima keadaan.
Entah karena kesepian, butuh orang sebagai tumpahan hatinya yang kesal
dan rasa disia-siakan. Bu Reni menceritakan bahwa pak Hendra sudah lama
mempunyai istri simpanan disebuah perumahan mewah dipinggir kota. Tak
pernah hal ini dia ceritakan kepada siapapun juga kepada anaknya sendiri
mbak Clara di Jakarta. Sama dengan kebanyakan istri-istri pejabat yang
walaupun tahu suaminya punya simpanan perempuan, bu Reni hanya bisa
menahan hati. Konon katanya, justru sebenarnya banyak istri pejabat yang
malah mencarikan perempuan khusus untuk dijadikan simpanan suaminya
sendiri, demi keamanan nama baik” dan jabatan. Biar sisuami tidak asal
hantam dan makan sembarang wanita. Toh, Istri tahu atau tidak, terima
atau tidak, si suaminya dengan jabatan, uang dan kelelakiannya dapat
melakukan apa saja pada perempuan-perempuan yang mau. Semua itu seperti
permaisuri yang mencarikan selir untuk suaminya sendiri.
“Dia ingin punya anak laki-laki Win (Win nama palsu gua, mau yang asli
tanya dukun santet!)” Begitu ucap Bu Reni malam itu. Matanya mulai
berkaca-kaca. Dulu bu Reni memang suka bercerita betapa inginnya dia
punya anak laki-laki yang banyak. Dia suka menyesali diri kenapa Tuhan
hanya memberinya satu anak saja. “Apakah itu alasan yang wajar Win”
Ucapnya lagi. Kedua tanganya memegang tangan kananku dan matanya yang
memelas lurus menatapku. Seolah meminta dukungan bahwa kelakuan Pak
Hendra salah. saya bingung. Mau ngomong apa, seribu kata aduk-adukan
diotak hingga saya hanya bisa menggeleng-gelengkan kepala. Diluar
dugaanku, tangis bu Reni malah meledak tertahan. Dia jatuhkan mukanya
kepundak kiriku. saya bingung, tapi naluri lelakiku berkata dia
teraniaya dan butuh perlindungan, hingga akhirnya tanganku begitu saja
merengkuhnya. Bu Reni malah membenamkan wajahnya kedadaku. saya
elus-elus punggungnya dan dengan pipiku kugesek-gesek rambutnya agar dia
tenang. Kucium wangi parfum dari tubuh dan rambutnya.
Sesaat rasanya, sampai akhirnya Bu Reni menarik mukanya dan memandangiku
dengan senyumnya yang gusar. saya ikut tersenyum. Ada malu, ada rasa
bersalah, ada pertanyaan ada kehausan dimata Bu Reni, dan ada yang
menyesakan dadanya. Entah rasa sayang atau sekedar untuk menetralisir
hatinya, saya usap air matanya dengan jariku. Bu Reni hanya diam
setengah bengong menatapku. Hening. Sepi.
“Ibu bahagia sekali win kamu mau tinggal disini. Entah bagaimana rasanya
rumah ini kalau tak ada kamu dan Yoyok. Sepi. Tidak ada lagi yang bisa
diharapkan. Mungkin ibu bisa mati ngenes dirumah sebesar ini” Ucap Bu
Reni pelan tertunduk murung.
“Kenapa ibu baru menceritakannya sekarang?” Ucapku. “Untuk apa?” Ucap bu
Reni menggeleng-geleng. “Setidaknya beban ibu dapat berkurang” “Buat
ibu cukup melihat kamu dan Yoyok ceria dan bahagia dirumah ini.
Kalianlah yang justru membuat ibu betah dirumah. Untuk apa ibu harus
mengurangi semua itu dengan masalah ibu. Ibu sayang pada kalian”Ucap Bu
Reni sambil memegang jari tanganku. saya membalasnya dengan meremas jari
jemarinya pelan. “Kamu sayang pada ibu kan win? Tanya Bu Reni
menatapku. saya menggangguk tersenyum. Bu Reni tersenyum bahagia. Lalu
entah kenapa saya nekat begitu saja mendekatkan mukaku, mencium kening
dan pipinya dengan lembut. Kulihat wajah Bu Reni yang surprise tapi diam
saja.
“Bu Reni marah?” tanyaku. Dia menggeleng-geleng dan malah balas
menciumku, menyenderkan kepalanya miring dipundakku dan melingkarkan
tangan kanannya dipinggangku. Kupeluk dia. Lama sekali rasanya kami
saling berdiam diri. Tapi saya merasakan kedamaian yang luar biasa.
Sampai akhirnya suara motor Yoyok yang katanya habis diskusi dikelompok
studinya tiba dan suara pintu gerbang terbuka.
Sejak kejadian malam itu hubunganku dengan Bu Reni jadi kian aneh.
Mungkin awalnya hanya sekedar memperlihatkan rasa sayang dan cinta
layaknya seorang anak pada ibunya dan sebaliknya. Walau dengan diam-diam
disetiap kesempatan yang ada kami saling tidak menyembunyikan semua
itu. Bertatapan dengan mesra, bercanda dan saling memperhatikan lebih
dari dulu-dulu.
Tapi seperti air yang tak diatur, semua mengalir begitu saja. Kian lama
bu Reni dan saya berani saling mencium. Cium sayang dan lembut disetiap
kesempatan yang ada tanpa seisi rumah tahu Tapi kegalauan dihatiku tetap
saja tak dapat kuingkari. Sering saya bertanya sendiri : sayangku,
cintaku, ciumanku dan pelukanku pada Bu Reni apakah manifestasi seorang
anak pada sosok ibunya, atau seorang lelaki pada seorang perempuan. Hati
dan otakku setiap hari dililit pertanyaan sialan itu. Begitu
menjengkelkan.
Semua itu berjalan sampai tak dapat kuingkari bahwa birahi selalu
mengikutiku jika saya berdekatan dan mencium Bu Reni. Selama ini saya
berusaha menekannya. Tapi itu meledak disuatu sore yang sepi.
Semula saya hanya ingin meminjam koran yang biasanya tergeletak diruang
keluarga rumah utama. Tapi saat kulihat Bu Reni tengah berdiri menikmati
ikan-ikan hias aquariumnya. Tiba-tiba saya ingin menggodanya. saya
berjingkat perlahan dan menutup kedua matanya dengan tanganku dari
belakang. Ibu Reni kaget berusaha melepaskan tanganku. saya menahan tawa
tetap menutup matanya. Tapi akhirnya Bu Reni mengenaliku juga.
Kukendorkan tanganku.
“Wiiiinnn kamu bikin kaget ibu saja akh..” Ucap Bu Reni tetap
membelakangiku dan menarik kedua tanganku kedepan dadanya. Bu Reni
bersandar didadaku. Kedua tanganku tepat mengenai payudaranya yang
kurasakan empuk itu.
Gelora aneh mengalir didarahku. Sementara Bu Reni terus mengomentari
ikan-ikan didalam aquarium, saya justru memperhatikan bulu-bulu lembut
dileher jenjangnya Rambutnya yang lurus sebahu saat itu tertarik keatas
dan terjepit jepitan rambut, hingga leher bagus itu dapat kunikmati
utuh. saya berdesir. Kurasakan napasku mulai berat. Dengan bibirku
akhirnya kukecup leher itu. Bu Reni merintih kegelian dan mencubit
lenganku dengan genit. “Hiiiii. Jangan Wiiinnnn akhhhh…Merinding ibu ah”
Dekapan tanganku ditetek dan dadanya makin kuat.
Ketika kuperhatikan dia tidak marah dan tenang maka kuulangi lagi
kecupan itu berulang-ulang. Kumis dan bekas cukuran dijanggutku
membuatnya geli. Tapi kurasakan tangan Bu Reni perlahan mencengkram erat
dikedua jariku dan dia diam saja. saya makin bernapsu. Ciuman, kecupan
dan hisapan bibirku makin menjadi-jadi keleher dan telinganya. Bu Reni
mendesah memejamkan mata. Kepalanya bergerak-gerak mengikuti cumbuanku.
Matanya terpejam dan napasnya menggelora. Kucari bibirnya, karena susah
maka kuputar tubuhnya menghadapku dan langsung kusambar dengan bibirku.
Kupeluk erat Bu Reni. Dia menggeliat membalas permainan bibirku. Kedua
tangannya memegangi bagian belakang kepalaku seolah takut saya
melepaskan ciuman bibirku. Kuremas-remas teteknya dengan tangan kananku.
Bu Reni melepaskan ciumannya lalu merintih-rintih dengan kepala
terdongak kebelakang seolah memberikan lehernya untukku. Dengan bibirku
langsung kuciumi leher itu. Tapi tiba-tiba Bu Reni setengah menghentakan
badanku seperti tengah bangun dari mimpi dan shock dia berkata : “Ya
Tuhan, Wiiinnn …apa yang kita lakukan?”
Bu Reni menjauhiku dan menempelkan kepalanya kedinding menahan hati.
Akupun bisu. Hening. lama sekali. saya kian gelisah. saya ingin keadaan
itu berakhir. saya dekati bu Reni, memeluknya lagi. Kata-kata cinta
meluncur begitu saja dari mulutku. Semua itu membuat bu Reni bingung.
Menggeleng-gelengkan kepalanya dan berlari masuk kekamar menahan tangis.
Beberapa hari sejak kejadian itu Bu Reni tidak menyapaku Dia selalu
berusaha menghindariku. saya bingung, saya takut dia marah. saya takut
dia menolak cintaku. saya takut gila, mencintai ibu kost sendiri, istri
orang dan perempuan yang jauh lebih tua dariku. Ditolak pula. Bah!. saya
mulai murung. Tapi itu hanya lebih kurang dua minggu. Hanya sampai pada
suatu malam, bulan jatuh dipelukanku saat Bu Reni lembut menyapaku dan
tanpa bicara sepatah katapun menciumiku. Bah!. Sedari dulu juga, jika
dibalik ke”mature”annya sesekali kulihat kerling genitnya, adalah bukti
bahwa sebenarnya sudah lama saya tak bertepuk sebelah tangan. Tapi Bu
Reni takut bicara tentang cinta, bahwa dia sayang, merindukan dan
membutuhkanku adalah iya.
Selanjutnya kami selalu berusaha bersikap wajar didepan seisi rumah
maupun tetangga. Satu hal yang pasti bahwa kami bisa dengan bebas saling
bercerita tentang apa saja. Termasuk kebiasaanku beronani dengan
membayangkan bersetubuh dengannya yang membuatnya tertawa
terpingkal-pingkal. Sebaliknya dari bu Reni saya tahu, bahwa suaminya
pak Sd itu aneh, diranjang bertempur tidak pernah menang tapi malah
punya simpanan. Untuk mencapai orgasme jika bersetubuh dengan suaminya
dia sering membayangkan bersetubuh denganku. Gila.
Kami terus mengalir tanpa halangan yang berarti. Maksudku tanpa
tindak-tanduk yang dapat menimbulkan kecurigaan orang seisi rumah maupun
tetangga. Sampai suatu hari Pak Rudi tetangga kami yang tinggal 6 rumah
dari kami melangsungkan pernikahan anaknya. Seharian itu saya dirundung
napsu dan cemburu. Seperti biasanya jika dilingkungan perumahan itu ada
pernikahan maka Pak Hendra dan Bu Reni akan menjadi penerima tamu. Pak
Hendra akan berbaju beskap, berjarik, blangkon dan berkeris. Bu Reni
akan berkebaya, berjarik dan berselendang dengan rambut konde yang rapi.
Bu Reni sendiri tahu bahwa dengan pakaian seperti itulah seringkali
saya mengungkapkan kekagumanku atas kecantikan dan sex apple yang
ditimbulkannya.
Rasanya saya gelisah terus melihat kesintalan tubuh Bu Reni yang
terlilit pakaian adat jawa yang ketat itu. Jika berjalan pinggulnya
bergoyang-goyang mengundang sensasi. Beberapakali kutebar pandanganku
berkeliling, selalu saja kulihat ada mata tamu pria entah muda, entah
tua ada yang tengah melirik atau memperhatikannya. Semua itu membuatku
pingin marah saja rasanya.
Tetapi sebelum seremoni perkawinan itu usai tiba-tiba pembantu Bu Reni,
yang biasanya saya panggil mbak Suti datang mengabarkan bahwa barusan
dia terima telepon dirumah yang mengabarkan adik Pak Hendra yang tinggal
di kota P mengalami kecelakaan lalu lintas. Pak Hendra, Bu Reni, Yoyok,
Mbak Suti dan saya akhirnya pamit pulang duluan pada pak Falcon.
Sampai dirumah, Pak Hendra dan Ibu Reni menelepon balik ke kota P
melakukakn konfirmasi berita. Adik pak Hendra bersama Dorti anaknyalah
yang mengalami kecelakaan. Mobilnya tertabrak bis antar kota yang selip.
Dua-duanya masuk UGD rumah sakit dan Pak Hendra sebagai anak tertua
dikeluarganya diminta datang. Teman sekamarku Yoyok sendiri ingin ikut
nengok. Yoyok naksir berat pada Dorti, pernah menyatakan cinta dua kali.
Tapi dua kali pula Dorti menolak. Sementara Ibu Reni sendiri harus
tetap tinggal karena besok pagi ada tim BPKP dari Jakarta yang akan
datang melakukan audit dikantornya. Ibu Reni key person yang harus ada.
Pak Hendra dan Yoyok berangkat ke kota P dengan mobilnya dan akan mampir
kerumah pak Sarmin supirnya dulu untuk diajak berangkat. Aku, Bu Reni
dan Mbak Suti ngobrol sebentar membicarakan kemungkinan-kemungkinan yang
terjadi pada adik pak Hendra dan anaknya. Sampai mbak Suti menguap
beberapa kali. Selama ngobrol tak pernah mataku lepas dari busungnya
dada Bu Reni dengan teteknya yang montok dan sedikit terlihat.
Mbak Suti langsung pamit tidur. Tinggallah saya diruang tengah itu,
sendiri, melamun. Sekian lama hubungan kami berjalan. Selama ini kami
hanya sampai batas berpelukan, berciuman, saling tindih diranjang dengan
napas yang menderu-deru dan berujung orgasme tanpa coitus. Entah berapa
kali kontolku menekan-nekan dan menggesek-gesek dimemeknya yang basah
bercelana. Entah berapakali pejuhku membasahi celana dalamku sendiri dan
celana dalam Bu Reni. Lantas walaupun kontolku belum pernah sekalipun
masuk kememeknya, kecuali hanya menggesek-gesek dan saya orgasme, masih
perjakakah aku?.
Langkah Bu Reni terdengar dan terus kupandangi sekujur tubuhnya yang
semampai melenggok-lenggok, dari kepala sampai kaki ketika dia berjalan
kearahku. Stagen dipinggangnya sudah tak ada hingga perutnya sedikit
terlihat. Dadaku berdebar-debar. Berkali kali kutelan ludah.
“Kamu melihat ibu, kaya ibu ini apaan sih?!”ucap Bu Reni genit
mengibaskan tangan kanan dimukaku. “Ibu cantik sekali, makin sexy, sexy
sekali berkebaya dan saya terangsang sekali” Ucapku asal saja menunjuk
kekontolku. “Hus. Sekali, sekali. Daripada melamun sini pijitin ibu”
Ucap Bu Reni duduk membelakakingiku dan menepuk pundaknya. saya pijit
kedua pundaknya perlahan-lahan. Bu Reni kadang menggeliat keenakan.
Makin lama pijitanku makin turun, kepunggungnya, ke tulang-tulang
rusuknya, kepinggangnya. Tak lama kutarik pundaknya dan kusandarkan
punggungnya kedadaku, kutempelkan pipi kananku kepipi kirinya. Lalu
kupijit kedua pahanya, kuelus-elus dan kuremas-remas sampai
kepinggulnya. Bu Reni memejamkan matanya. Pijitan bercampur elusan kedua
tanganku merambat naik dan berhenti didadanya untuk meremas-remas buah
dada yang kurasakan besar dan kenyal itu. Mukaku kugesek-gesekan
dirambut dan kondenya, pipinya, dan kukulum-kulum telinganya. Deru napas
Bu Reni mulai tak teratur kadang diselingi desahan halus.
Tangan kanannya mencoba meraih kepalaku, kadang mencengkram lembut
rambutku. Telapak tangan kirinya digosok-gosokan kepipi kiriku. Remasan
tanganku ke buah dadanya makin liar, mukaku meliuk-liuk menciumi apa
saja dikepalanya. Kubuka kancing baju kebayanya. Sembulan sepertiga buah
dada dari BHnya indah sekali. saya makin terangsang. Kontolku yang
ngaceng sejak tadi ingin meledak rasanya. Ku tarik baju kebayanya turun
kebelakang hingga pundak dan lehernya bebas kuciumi dan jilati. Ibu Reni
mengerang nikmat. Kulingkarkan kedua tanganku memeluknya erat-erat.
Bibir Bu Reni yang setengah terbuka kusambar dengan bibirku dan kukulum
habis. Ujung lidah kami beradu, kutelusuri lidahnya sampai seberapa jauh
dapat masuk, kerongga-rongga mulutnya. Begitu kami bergantian.
Aku dan Bu Reni mulai tak tahan, kurebahkan dia disofa. Kutelusuri
tubuhnya, kuciumi dari muka, dada, perut paha, dan betisnya yang masih
dibalut kain jarik. Naik lagi dan kutindih Bu Reni. Erangannya makin
merangsangku. Kubuka ikat pinggangnku.
“Jangan disini sayang. Nanti kalau Suti bangun…..”Tiba-tiba ucap Bu Reni
tak menyelesaikan kalimatnya. Kami berdiri. Bu Reni melepas resleting
celanaku, memasukan tangannya kecelana dalamku dan meremas-remas
kontolku yang tegang dengan geregetan. “Heeeemmmmmm” Ucapnya lalu
membimbingku masuk kekamarnya berjalan mundur dengan memegang dan
menarik kontolku. Itu membuat kami tertawa.
Pintu kamar dikuncinya cepat-cepat. Kubuka bajuku dan Bu Reni setengah
menunduk membuka celanaku lalu mencari kontolku. Begitu dapat langsung
dimasukan kemulutnya, dijilati dihisap-hisap, diciumi dan kadang
dikocok-kocok dengan tangannya. Yang begini belum pernah dia lakukan.
Aliran kenikmatan merambat sampai ubun-ubun kepalaku. saya memberinya
isyarat agar melepaskan kontolku. saya dipuncak napsu dan ingin
memasukan kontolku langsung saja kememeknya, tapi dia menolak. Badanku
rasanya makin bergetar dengan tulang yang mau berlepasan dan
syaraf-syaraf ditubuhku rasanya kelojotan nikmat. Bu Reni begitu
bernapsu dan nikmat memainkan kontolku dimulutnya
Aku tak tahan dan minta rebahan diranjang. Bu Reni melepas baju
kebayanya. Dengan tetap BH masih didada dan kain jariknya yang belum
terlepas, mulutnya langsung mengejar burung pusakaku sampai dua biji
telornyapun dia cium, jilat dan hisap.
Aku makin bergelinjang, melayang-layang nikmat. Hingga dipuncaknya, saya
tak sempat lagi memberitahunya kalau pejuhku mau keluar. Hingga
akkhh…crott…crooot. Crroott. Pejuhku muncrat didalam mulut Bu Reni. Tapi
Bu Reni justru malah bernapsu, menelannya dan terus menghisap-hisap
kontolku sampai bersih, kasat dan ngilu rasanya. saya terkejut. Bangun
terduduk. “Ibu telan?….Apa ibu tidak jijik?”Tanyaku bodoh. Ibu Reni
menggeleng, justru mukanya cerah, kepuasan terpancar diwajahnya. Aneh
pikirku. “Orang bilang, meminum air mani perjaka akan membuat perempuan
awet muda. Lepas betul atau tidak yang terang ibu sudah mencobanya
barusan sayang”Ucap Bu Reni lalu menciumiku dari muka sampai dadaku,
sementara tangan kanannya terus meremas-remas kontolku. “Ayo lagi
sayang, ibu pingin kamu puas” Ucap Bu Reni mesra.
Kontolku yang tadi terkulai karena sudah keluar pejuh dan shock mulai
menegang lagi akhirnya. Bu Reni kembali mengulum dan menghisap-isap
kontolku. “Kalau ibu masih pingin, ambil semua pejuh saya “Ucapku Ibu
Reni tersenyum. Kubuka BHnya dan kutarik lilitan kain jariknya. Bu Reni
berdiri untuk memudahkan melepas kain jariknya. Tubuhnya yang telanjang
bulat langsung kuterkam, kurebahkan dan kutindih. Dua teteknya yang
besar itu kuhisap-hisap putingnya bergantian. Tangan kananku
menggosok-gosok memeknya. Kuciumi, kujilati dan kuhisap-hisap semua
bagian yang menurut instingku bisa membangkitkan gairahnya. Bibir,
lidah, telinga, kuping leher, tetek, perut, pusar, paha, memek, betis
sampai ke jari dan telapak kakinya.
Tubuh Bu Reni bergelinjangan tak karuan dadanya naik-turun kelojotan.
Tangan kirinya meremas-meremas teteknya dan tangan kanannya
menggosok-gosok memeknya sendiri. Konde rambut Bu Reni hampir terlepas.
Mulutku naik lagi keatas menyusuri betis dan paha hingga akhirnya
berhenti dimemeknya. Dengan kedua tanganku kusibak pelan jembutnya.
Kulihat belahan memeknya yang memerah berkilat dan bagian dalamnya ada
yang berdenyut-denyut. Kuciumi dengan lembut, bahu dimemeknya membuat
sensasi yang aneh. Tak pernah ada bahu seperti ini yang pernah kukenal
rasanya.
Dengan hidung kugesek-gesek belahan memek Bu Reni sambil menikmati aroma
bahunya. Erangan dan gelinjangan tubuhnya terlihat seperti pemandangan
yang indah menggairahkan.
“AaaaKhhhk….Eeeekhhhh…enak sekali sayang. Teruuuuuusss sayang” Rintih Bu
Reni. Kujulurkan lidahku, kujilat sedikit memeknya, ada rasa asin. Lalu
dari bawah sampai atas kujulurkan lidahku menjilati belahan memeknya.
Begitu seterusnya naik turun sambil melihat reaksi Bu Reni.
“Akkhhh…….Akkkhhhhh…….Akkkhhhh hhhh…E nggh hh” Bu Reni terus merintih
nikmat, tangannya mencari tangan kananku, meremas-remas jariku lalu
membawanya ketoketnya. saya tahu dia ingin yang meremas teteknya adalah
tanganku. Begitu kulakukan terus, tangan kananku’ meremas teteknya,
mulutku menjilati dan menghisap-hisap memeknya, tangan kiriku
mengelus-elus pinggang, paha sampai kebetisnya yang putih mulus dan
halus itu.
“Akkkhhhh…sudah sayang…sudah….ayo sekarang sayang ibu sudah tak tahan
akkkhhhh….masukan sayang, masukan” Desah bu Reni mengerang meraih
kepalaku agar menghentikan jilatan dimemeknya dan minta dikentot. Tanpa
harus mengulangi lagi permintaannya langsung saja saya merangkak naik,
menindih tubuh Bu Reni. Bu Reni melebarkan pahanya. Kontolku menuju
memeknya. Beberapa kali kucoba, memasukan, beberapa kali pula gagal.
saya tak tahu mana yang pas lobangnya, mana yang hanya belahan memek.
Tapi tangan Bu Reni segera membantu, memegang kontolku, membimbing
kedepan lobang memeknya lalu berkata “Ya itu sayang…disitu…tekan sayang
tekan…disitu… aaakkkhhhh….ayo sayang…ibu tak tahan…ooo..akkkhhhh” Ibu
Reni merintih ketika kontolku yang kutekan masuk seluruhnya kelobang
memeknya. Sejenak tubuhku kaku, saya diam saja, saya nervous. Batang
kontolku rasanya terjepit oleh dinding memek Bu Reni yang seperti
berdenyut-denyut dan menghisap-hisap. Nikmat luar biasa. Ini yang
pertama.
Bu Reni menggoyang-goyangkan pinggulnya, setengah berputar putar dan
kadang naik turun. Kontolku yang tertancap dimemeknya yang setengah
becek dibuat seperti mainan yang membuatnya nikmat tak karuan. “Ayo
sayang…ayo…bareng-bareng sayang…ibu mau keluar sayang…ayo..ayo…..”Rintih
Bu Reni dengan mata setengah terpejam dan mulutnya yang terus terbuka
mendesah-desah dan kian kuat menggoyang goyangkan pinggulnya. Akupun
terus mengimbanginya sampai tiba-tiba Bu Reni seperti terdiam dan kedua
tangannya merangkul leherku kuat-kuat dan dari mulutnya keluar desahan
panjang : “Aakkkhhhhh……Oukhhhhhhhh….Engk hhhhhh…. ..” Bersamaan dengan
rintih kepuasannya, denyutan dan hisapan memek Bu Reni makin kuat dan
nikmat rasanya.
Akupun sudah tak tahan lagi dan ingin agar pejuhku segera keluar.
Karenanya kunaik turunkan kontolku, kuputar-putar dan kunaik-turunkan
terus hingga akhirnya crooottt…crooootttt.. crroooot…. “Akhhh…………”
Bersamaan dengan muncratnya pejuhku dimemeknya, kembali Bu Reni mendesah
nikmat. Napasku memburu, saya lemas sekali rasanya. Sementara Bu Reni
tetap menggoyang-goyangkan pinggulnya dengan pelan dan tangannya
mengelus-elus rambutku. Beberapa saat kubiarkan tubuhku menindih tubuh
bugil Bu Reni tanpa tangan atau dengkulku menahan beban badanku.
Kontolku tetap menancap dimemeknya. Ketika ingin kucabut Bu Reni
melarangnya. “Jangan sayang, jangan dicabut dulu, biarkan ibu memiliki
dan menikmatinya, peluk…peluk…tetap tindihlah ibu sayang. Ibu puas, kamu
puas sayang hemmmm?….enak sayang?….” Ucap Bu Reni sambil terus
menciumiku.
Malam itu kami habiskan tidur kelonan diranjang yang biasa Ibu Reni
tidur dan ngentot dengan suaminya. Tapi sejak malam itu dan disetiap
kesempatan yang ada kuentot pula Bu Reni diranjang yang sama. saya tak
perlu lagi hanya beronani dengan membayangkan ngentot dengannya,
begitupula Bu Reni tak perlu lagi hanya sekedar membayangkan ngentot
denganku jika ia melayani suaminya. Kami baru ngentot dihotel jika salah
satu dari kami sudah tak tahan lagi sementara kesempatan dirumah tak
ada. Atau ketika obsesiku kumat untuk ngentot dengan Bu Reni dalam
pakaian kebaya, kain jarik dan berkonde. Ini terkadang aneh,
berlama-lama Bu Reni ke Salon rias, begitu selesai langsung ke Hotel dan
kuobok-obok sampai berantakan. (Aneh ya?!.).
Sering pula jika keadaan memungkinkan, Bu Reni suka menyelinap kekamarku
untuk “fast sex“. Sex cepat dengan tetap masih berpakaian. Tandanya Bu
Reni masuk kekamarku sudah tanpa celana dalam dan dipuncak napsu. Ini
sering terjadi jika Bu Reni sedang butuh tapi Pak Hendra tak acuh terus
tidur.
Tentang memek Bu Reni, mungkin itu yang disebut memek empot ayam. Memek
yang tak pernah kutemui pada semua perempuan (adik-adik, mbak-mbak,
tante-tante dan ibu-ibu rumah tangga yang muda maupun tua) yang pernah
kutiduri, sampai hari ini sekalipun diumurku yang 37 tahun.
Demikian cerita tante girang
kali ini, semoga menghibur buat anda, banyak lagi cerita yang kami
punya tetap tunggu koleksi kami dengan update cerita yang lebih panas
dan tentu membuat anda penasaran lagi. Sampai ketemu di postingan
selanjutnya.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar